Sabtu, 15 Mei 2010

Budaya Masyarakat Petani














LATAR BELAKANG
Akhir-akhir ini program-program pemerintah di bidang pertanian, terutama yang berkaitan dengan swasembada pangan semakin marak. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai swasembada pangan, terutama beras, jagung, kedelai, dan daging. Semua pihak berusaha untuk meningkatkan produktivitas pertanian, baik dengan penerapan teknologi baru, pemilihan bibit unggul, perbaikan pengairan, pemupukan yang teratur, dan pemberantasan hama. Ditambah dengan proses pengolahan produk pasca panen, termasuk pendistribusiannya. Keseluruhannya lebih dikenal sebagai program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.
Namun ternyata, ada hal lain yang terlupakan. Padahal aspek ini tak kalah penting dan sangat berperan dalam kontinuitas produksi pertanian, yaitu kesehatan dari praktisi persawahan dan perkebunan, yakni para petani. Alangkah baiknya jika kita tak hanya terfokus pada kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, tetapi juga memperhatikan bagaimana pola keselamatan dan kesehatan kerja dari para petani.
Dari hasil pengamatan kami, jarang sekali ada orang yang memperhatikan masalah kesehatan petani, padahal hal tersebut tidak kalah peting. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya artikel yang membahas tentang masalah tersebut, terutama dengan pola petani kita yang pergi ke sawah tanpa menggunakan alas kaki. Padahal di luar negeri, terutama di Negara yang pertaniannya maju seperti Jepang dan Amerika, masalah kesehatan petani ini sudah menjadi sorotan, baik oleh pemerintah maupun LSM-LSM terkait. Bukan berarti, di Indonesia penanganan masalah ini tidak ada sama sekali. Hanya saja, sedikit sekali sosialisasi yang dilakukan pemerintah ataupun LSM perihal alas kaki dalam bersawah.
Disamping itu, memang tidak dapat kita pungkiri bahwa petani kita sendiri pun masih belum memberikan perhatian yang berarti bagi kesehatannya. Para petani yang penghasilanya pas-pasan, belum tentu dari penghasilannya tersebut dapat memenuhi semua kebutuhan pokok keluarga mereka. Wajar saja, jika mereka tidak begitu menghiraukan kesehatan mereka dalam bertani, seperti dalam hal yang kecil saja memakai alas kaki ke sawah. Mereka anggap itu hal tesebut sepele dan tidak berbahaya untuk diri mereka. Telah menjadi sebuah kebiasaan petani-petani di pedesaan masih telanjang kaki ketika mereka pergi bertani atau berladang, sebagian petani beralasan mereka tidak memakai alas kaki agar mereka tidak terpeleset ketika bekerja dan tidak menghambat gerak mereka.

TUJUAN
Penulisan ini bertujuan untuk memberikan tijauan atau informasi yang kadang dianggap sepele oleh sebagian orang padahal hal tersebut berdampak sangat besar. Seperti kebiasaaan petani yang tidak memakai alas kaki ketika berkerja, selintas hal tersebut terlihat sepele dan tidak penting tapi setelah ditinjau lebih lanjut, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan berbagai penyakit yang serius bahkan bisa berdampak kematian. Dan sudah selayaknya, kita sebagai masyarakat negara agraris, menjaga asset berharga negara ini, yaitu para petani.

PENDAHULUAN
Sistem pertanian Indonesia yang masih terbilang tradisional dalam pengelolaan lahannya. Sekalipun sudah dilakukan penyuluhan ke desa-desa perihal modernisasi pertanian, namun hal ini kurang dihiraukan oleh para petani. Para petani masih menggunakan cangkul untuk mengolah tanah, sebagian lagi telah mengunakan teknologi seperti mesin traktor. Namun, seperti sosialisasi penggunaan traktor di daerah pertanian Garut, sekalipun petugas pemerintah sudah memberikan penyuluhan perihal penggunaan traktor, para petani tetap belum bisa atau bahkan tidak mau menggunakannya. Atau bisa dikatakan, petani Garut lebih senang mengolah lahan dengan tangan mereka sendiri. Alasan penolakan traktor diantaranya adalah penjelasan petugas yang tidak mendetail mengenai cara pakai traktor, kemudian mahalnya harga BBM yang digunakan sebagai bahan bakar traktor, dan mahalnya suku cadang yang harus dibeli jika traktor tersebut rusak serta tidak adanya montir khusus untuk memperbaiki traktor. Kerepotan inilah yang membuat petani ‘malas’ merubah gaya bertani mereka dan cenderung mempertahankan ‘apa yang sudah mereka miliki’.
Kebiasaan petani tidak memakai alas kaki ketika mereka bekerja di lahan pertanian, sudah melekat kuat. Adalah aneh, bila seorang petani memakai alas kaki ketika mereka bekerja. Di negara-negara maju, sistem pengolahan lahannya telah menerapkan teknologi sepenuhnya yang memungkinkan petaninya tidak perlu ‘terjun langsung’ ke sawah. Seperti sistem pertanian di Amerika Serikat, para petani di sana telah terbiasa memakai alas kaki ketika mereka bekerja di lahan pertanian dengan menggunakan sepatu “Boot” sepatu yang berbahan dasar dari karet atau plastik. Mereka telah memahami pentingnya memakai alas kaki. Salah satunya adalah untuk menghindari infeksi cacing yang dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui telapak kaki yang telanjang. Di Amerika, para ahli kesehatan telah banyak dan giat melakukan pembinaan terhadap petani dan sangat memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan petaninya.

PEMBAHASAN
Indonesia yang, merupakan negara agraris, negara yang menekankan bidang pertanian sebagai komoditas ekspor, negara yang masih mengandalkan sebagian besar hasil komoditas pertanian untuk memenuhi kebutuhan masyarakatny, walau sebagian besar pertanian di Indonesia masih mengunakan alat tradisional dalam mengelola lahan pertaniannya.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa pendidikan petani-petani kita tidak begitu tinggi, atau bahkan ada yang tidak mengecap pendidikan sama sekali. Jadi wajar saja, jikalau mereka tidak begitu mengerti dan memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin dapat berdampak besar. Seperti infeksi yang dapat disebabkan oleh cacing, bakteri, dan jamur. Padahal, mikroba-mikroba tersebut dapat menyebabkan penyakit yang cukup berbahaya, seperti kaki gajah dan tetanus.
Di sisi lain, kesehatan petani memang belum menjadi sorotan yang dianggap penting oleh pemerintah dan para ahli kesehatan. Hal itu karena sistem kesehatan di negara kita lebih menekankan pada aspek kuratif. Bagaimana menyembuhkan seseorang yang terkena penyakit? Padahal di negara-negara maju, aspek tersebut sudah dialihkan menjadi aspek preventif. Bagaimana menjaga kesehatan masyarakat dan mencegah munculnya wabah penyakit?
Hal tersebut tidak sulit untuk dibuktikan, di daerah Lembu Situ, Sukabumi, Jawa Barat, penyuluh yang datang masih menekankan perihal kesehatan ibu hamil. Adapun perihal pertaniannya, para petani hanya diberikan cara-cara menghasilkan panen yang melimpah, para penyuluh belum ada yang secara besar-besaran mencoba menjelaskan pola keselamatan dan kesehatan kerja, terutama pentingnya memakai alas kaki kepada petani. Pernah suatu ketika seorang mahasiswa IPB bertanya kepada salah seorang petani di desa tersebut, mengenai alasan mengapa petani tidak menggunakan alas kaki ketika pergi ke sawah. Petani tersebut menjawab bahwa ia tidak memakai alas kaki agar tidak terpeleset ketika berada di ladang bila dalam keadaan hujan. Repot bila memakai sandal ke sawah karena sandal tersebut bisa tertahan di dalam lumpur dan dapat menghambat gerak petani di sawah. Kemudian ketika ditanya mengapa tidak memakai sepatu boot, alasan petani tersebut adalah karena sepatu boot harus di beli sementara penghasilan mereka hanya mampu memenuhi kebutuhan pribadi dan membiayai pendidikan anak-anaknya, yang mungkin hanya mampu disekolahkan semapai tingkat SD atau SMP. Masih banyak alasan lain yang membuat petani bertahan untuk tidak memakai alas kaki.
Padahal kebiasaan tidak memakai alas kaki tersebut dapat menimbulkan berbagai penyakit yang cukup berbahaya, mulai dari masuknya cacing-cacing parasit kedalam tubuh lewat telapak kaki yang telanjang sampai luka yang terjadi bila menginjak sesuatu (benda) yang tajam. Ada sebuah kasus, masih di kota Sukabumi, seorang petani tua bernama bapak Jiji (60 tahun) adalah buruh tani yang menggarap lahan orang lain. Suatu ketika, kepala keluarga yang telah memiliki cucu ini tertusuk paku yang berkarat saat sedang mencakul di sawah. Karena ketidaktahuan beliau terhadap bahaya infeksi luka tersebut, pak Jiji membiarkan luka bekas tertusuk paku berkarat tersebu dengan anggapan nanti akan sembuh dengan sendirinya, seperti luka gores lainnya. Beliau tetap bekerja di sawah tanpa membersihkan lukanya dengan antiseptic atau obat lainnya. Luka itu dibersihkan dengan air panas dan cabe rawit ”cengek” yang di gosok-gosokkan ke daerah luka, kemudian ditutup dengan sobekan kain bekas. Pak Jiji melanjutkan pekerjaannya di sawah tanpa memakai alas kaki, sehingga menyebabkan luka tersebut semakin parah dan terjadi infeksi yang mengakibatkan Pak Jiji sakit keras hingga akhirnya meninggal. Meski sudah jatuh korban, penduduk desa tersebut tetap mempertahakan budaya “nyeker” saat bertani. Mereka masih belum memahami akar dari kasus meninggalnya Pak Jiji tersebut. Masyarakat sekitar hanya mengetahui Pak Jiji meninggal karena infeksi dan tidak memahami alasan dibalik infeksi yang dialami Pak Jiji.
Tidak hanya Indonesia yang mengalami masalah serupa, Cina pun kesulitan dalam penanganan petani telanjang kaki ini. Berbeda dengan Indonesia, pemerintah Cina dengan sigap membentuk "Dokter Barefoot" selama Revolusi Kebudayaan. Dokter-dokter tersebut diberi pelatihan dan dipekerjakan di desa-desa untuk membantu perawatan kesehatan masyarakat petani daerah tersebut. Mereka menyuluh dan mempromosikan perawatan kesehatan dasar pencegahan dan keluarga berencana serta penyakit-penyakit umum berjangkit. Dokter bertindak sebagai penyedia layanan kesehatan utama di tingkat the grass-roots level. Para dokter barefoot ini terlibat secara langsung dalam upaya preventif dan kuratif dengan menghabiskan 50% dari waktu mereka untuk ini. Hal ini berarti bahwa petani pedesaan menganggap dokter sebagai teman dan nasihat mereka lebih dihormati.
Sistem dokter bertelanjang kaki merupakan salah satu inspirasi yang paling penting bagi WHO pada tahun 1978 ketika sebuah deklarasi ditandatangani dengan suara bulat menyerukan masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam menentukan prioritas kesehatan. Program ini ditekankan pada perawatan kesehatan primer dan kedokteran pencegahan.

KESIMPULAN DAN SARAN
Hingga saat ini masalah kesehatan praktisi pertanian, terutama petani, kurang diperhatikan. Baik para petani sendiri yang acuh terhadap penggunaan alas kaki, maupun pemerintah dan LSM yang kurang tanggap menghadapi permasalahan tersebut. Pola kerja yang tidak baik ini sulit untuk diubah, jika tidak ada korelasi atau kerja sama antara petani dengan berbagai macam profesi kesehatan, baik dari pemerintah maupun swasta (LSM). Kebiasan tidak memakai alas kaki ketika bersawah banyak ditemui di Indonesia karena kurangnya pengetahuan para petani akan pentingnya menjaga keselamatan dan kesehatan kerja di sawah. Kebiasaan tersebut pada akhirnya dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit, mulai dari infeksi ringan sampai yang menyebabkan kematian. Oleh karena itu, sebagai masyarakat dari negara agraris, sudah sepatutnya kita saling mengingatkan dan membantu memelihara kesehatan masyarakat tani sebagai asset kontinuitas produksi pertanian Indonesia.

REFERENSI
http://daydream.ee.csulb.edu/ /
http://www.barefootfarmer.com/csa-info.html
http://www.barefootclinic.com/about/
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/13285
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/7381
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/12406
http://www.ipb.ac.id/~tpg?b=1510
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/11459/2/H09ard.pdf
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/5861/4/2009wid.pdf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar